Wednesday, February 16, 2005
RAJA RAJA TERANCAM BAHAYA!
Jika tak segera berbenah, alamat bahaya menghadang saat kompetisi LI 2005 mulai bergulir. Catatan khusus layak diberikan tuan rumah sekaligus juara bertahan PEBY, Persija.
Walau dihuni mayoritas pemain timnas jebolan Piala Tiger 2004, tim Macan Kemayoran tak menujukkan performa bagus sepanjang turnamen.
Hasil dua kali imbang (PSIS, PSM) plus satu kali kekalahan (Geylang FC) tak sebanding dengan pengeluaran duit Persija. Tak kurang dana Rp 5 miliar dari total dana Rp 7 miliar sudah dirogoh manajemen Persija untuk membeli pemain.
Kelemahan paling terasa ada di barisan pemain asing. Kedatangan Jaldecir Deca Dos Santos (PSS), Ayouk Louis Berty (Persijatim), serta Blajco Alexander dan Puscha Ghrenadie (Moldova) tak mampu menutupi kepergian pilar asing Argentina, seperti Emanuel de Porras dan Gustavo Ortiz.
Bahkan bisa dibilang skill individu bintang asing gres kalah jauh dibanding pemain lokal timnas yang mangkal di Persija.
"Mereka jauh dari harapan. Dengan kondisi tersebut berat rasanya pengurus mempertahankan mereka," ungkap IGK Manila, manajer Persija.
Manila akan mencari tiga pemain baru di posisi striker dan playmaker. Nama kapten timnas, Ponaryo Astaman, menjadi incaran. Sumber BOLA menyebutkan Persija tengah melakukan negosiasi harga dengan gelandang asal PSM itu.
PSIS Menyodok
Nasib tak jauh beda dialami runner-up LI 2004, PSM. Kepergian mayoritas pemain pilar musim lalu membuat kekuatan tim Juku Eja timpang.
Seperti Persija, kehadiran pemain asing baru seperti Osvaldo Moreno (Persib), Mariano, dan Renanto tak mampu memberi kontribusi berarti buat tim. "Manajemen baru merasa sreg dengan Ronald Fagundez dan Ebanda Herman," kata Ilham Sirajuddin, Ketua Umum PSM.
Persib kurang lebih sama. Keinginan pelatih veteran, Indra Thohir, mengedepankan pemain-pemain lokal asal Jabar perlu ditinjau ulang. Acungan jempol justru layak diberikan PSIS, yang tampil sebagai tim kuda hitam.
Kedatangan De Porras ditambah pemain asing muda berkelas seperti Esaiah Pello Benson membuat pasukan Mahesa Jenar lebih bertenaga. Kehadiran pemain-pemain utama buangan Persijatim juga menjadi nilai lebih.
"PEBY memang cuma ajang pematangan komposisi tim. Di kompetisi LI kami baru bermain habis-habisan," ujar Bambang Nurdiansyah, pelatih.
PLUS-MINUS PESERTA PEBY
Persija
(+): Jika dioptimalkan, kekuatan serangan lewat sayap akan menakutkan karena ada Ismed Sofyan dan Ortizan Solossa.
(-): Kehadiran bek-bek timnas belum membuat lini belakang lebih kuat. Selain ceroboh, mereka lambat. Pemain asing di lini tengah dan depan kualitasnya meragukan.
PSM
(+): Lini tengah terasa tetap bertenaga dengan kehadiran trio Syamsul Chaeruddin, Ponaryo Astaman, dan Ronald Fagundez.
(-): Kemampuan striker asing di lini depan belum mantap. Begitu pula dengan lini belakang. Kehadiran pemain muda minim pengalaman meninggalkan banyak lubang.
Persib
(+): Sebagian pemain asing mempunyai skill individu bagus bisa mendongkrak performa tim.
(-): Karena banyak dihuni pemain gaek, stamina pun melorot di babak kedua, sementara pelapisnya tak setara.
PSIS
(+): Kualitas pemain asing di semua lini cukup bagus dan bisa mendongkrak performa tim.
(-): Penampilan tim belum stabil, terutama saat mendapat tekanan.
Persebaya
(+): Sebagian tiang utama lokal maupun asing masih cukup bisa diandalkan karena mereka berpengalaman. Terlebih dengan masuknya Edu Juanda.
(-): Motivasi juara tak tinggi lagi, ditambah banyak pemain muda yang masih mentah. Kualitas tim inti dan cadangan amat timpang.
(sumber: Bola)
#
posted by fahrie : 3:24 PM