Friday, December 10, 2004
PSM MINTA PSSI FASILITASI PERTEMUAN
Enggan dirugikan pada partai akhir Ligapro X, PSM meminta PSSI untuk memfasilitasi pertemuan tiga tim yang bersaing memperebutkan tahta juara.
Permintaan ini dilontarkan kubu PSM menyusul besarnya kemungkinan main mata yang akan terjadi akibat perbedaan penetapan waktu pertandingan, kendati digelar di hari yang sama. Diberitakan, Persebaya memberi mampu hijau untuk mengikuti jadwal PSM. Mereka ingin main malam seperti halnya PSM.
Seperti diketahui, tiga tim papan atas, PSM, Persebaya, dan Persija akan melakoni partai akhir musim kompetisi tahun ini secara bersamaan, 23 Desember. PSM di kandang menjamu tim papan tengah PSMS, sementara di hari yang sama, Persebaya menjamu Persija.
Seperti diketahui, ketiga tim masing-masing memiliki dua partai sisa. Sebelum menjalani partai akhir, PSM akan menjamu tim papan bawah PSPS (19/12), Persebaya melawan Pelita KS (19/12), dan Persija bertandang ke Lamongan dijamu Persela (19/12).
Kalau ketiga tim menang, klasemen sementara sebelum partai akhir digelar dipimpin Persija dengan 60 poin, Persebaya di urutan kedua unggul selisih dua poin (58), dan PSM juga 58 di urutan ketiga.
Kalau semua menang, partai akhir kemungkinan aksi tidak fair memang kecil. Tapi, andai Persija kalah di Lamongan, maka tim Macan Kemayoran tentu kehilangan peluang untuk menjadi juara kendati bisa menggaet tiga poin melawan Persebaya.
Ini menjadi titik fokus perhatian kubu PSM. Sangat rawan terjadi main mata. Ditakutkan, ada saling atur untuk mematahkan langkah PSM. Makanya, pertemuan antara tim papan atas ini sangat perlu digelar lebih dulu untuk mengantisipasi segala kemungkinan ini.
Bidang Liga PSSI sebaiknya memanggil ketiga tim ini untuk membicarakan soal penetapan waktu main. Terkhusus, soal selisih waktu antara wilayah Barat dan Timur. Semuanya harus diperjelas agar tidak ada saling curiga. Jangan hanya berbentuk polemik di media massa saja.
Nantinya, PSM tetap merasa tidak dirugikan dengan waktu main partai akhir yang dilakukan secara bersamaan. "Tapi, harus diperjelas bersamaan seperti apa. Kalau PSM seperti biasa bermain pukul 19.30 Wita, maka Persebaya harus main pukul 17.30 WIB. Di samping itu, pertemuan yang sangat kami harapkan ini, tentu bisa membahas hal lain yang kemungkinan kembali menjadi masalah di belakangan hari," tegas Manajer Tim PSM, Kadir Halid, Kamis, 9 Desember.
Sementara itu, kekhawatiran sanksi partai usiran akan menimpa PSM buntut keributan penonton pada pertandingan melawan Persija Jakarta, 29 November lalu, akhirnya tidak terbukti.
Setelah mendengarkan laporan dari kubu PSM, Persija dan wasit Jajat Sudrajat pada sidang di Sekretariat PSSI, Selasa, 7 Desember, Komisi Disiplin (Komdis) PSSI akhirnya memutuskan vonis bebas terhadap PSM.
Menurut Ketua Komdis, Togar Manahan Nero, tidak cukup bukti yang dapat digunakan untuk memberikan sanksi, meski sebelumnya PSM sudah mendapat peringatan keras dari PSSI.
"Berdasar apa yang tercantum dalam laporan pertandingan dan bukti yang disodorkan kedua tim, tidak cukup kuat bagi Komdis untuk memberikan hukuman," jelas Togar usai sidang kemarin.
Selain vonis bebas bagi PSM, Komdis juga tidak menindaklanjuti laporan terhadap sikap pelatih Persija Serghei Dubrovin yang melakukan protes keras di tengah pertandingan, serta ulah Manajer Persija IGK Manila yang memasuki ruangan wasit saat jeda babak pertama seperti yang dilaporkan pihak PSM.
Togar menilai tindakan Serghei tersebut masih dalam batas kewajaran, sementara Manila, sesuai bukti yang terima Komdis hanya sampai di pintu ruangan. "Manila tidak masuk ke ruang wasit, jadi belum layak untuk dijatuhi hukuman," ungkap Togar.
Keterangan Togar ini tentu berbeda dengan kenyataan di lapangan di mana beberapa saksi melihat Manila berbicara langsung dengan wasit Jajat di dalam ruangan. Atas dasar itu pula PSM mengajukan protes keras mengingat dalam kasus yang sama Manajer Tim PSM Kadir Halid pernah mendapat skorsing selama tiga bulan.
Satu lagi pengaduan PSM, yakni soal buruknya kepemimpinan wasit Jajat pada pertandingan melawan Persija, oleh Komdis akan dilanjutkan ke Komisi Wasit untuk mendapat keputusan.
Soal protes tuan rumah setelah wasit tidak memberikan hadiah penalti menyusul handsball seorang pemain belakang Persija, Komdis bisa menerima penjelasan dari Jajat. Kepada Komdis, wasit asal Jawa Barat itu mengaku tidak melihat kejadian tersebut. Dalam aturan FIFA, meski asisten wasit sudah mengangkat bendera, namun keputusan tetap di tangan wasit.
Pihak PSM yang pada sidang kemarin diwakili Ketua Bidang Pertandingan Anas Genda, Sekretaris Pengelola Hasanuddin Baso, serta Penasihat Hukum Hasbi Ali, SH, bisa menerima keputusan Komdis tersebut meski tiga laporannya tidak ditindaklanjuti.
"Bagi PSM yang penting kita menyampaikan semua laporan mengenai kejadian pada pertandingan lalu. Soal keputusan akhir, kita serahkan sepenuhnya ke tangan Komdis," ujar Hasanuddin ketika dihubungi di Jakarta, kemarin. Soal vonis bebas kepada PSM, Anas mengaku sangat lega karena sudah sesuai harapan sebelum sidang ini digelar.
"Sejak awal kami memang menuntut keadilan dari Komdis. Kalau PSM dikenakan sanksi, kita akan melakukan protes keras. Sebab, pada pertandingan lalu kejadian terjadi seusai peluit panjang. Adapun keributan tersebut semua diawali kepemimpinan wasit. Pengurus PSSI yang hadir di stadion bisa menilai sendiri pantas-tidaknya PSM dikenakan sanksi," jelas Anas.
(Sumber: Fajar Online)
#
posted by fahrie : 1:46 PM